Jun 2

 

Seorang profesor diundang utnuk berbicara disebuh basis militer. Di sana ia berjumpa dengan seorang prajurit yang tak mungkin bisa dilupakanya. Prajurit itu bernama Harry.

Harry yang dikirim untuk menjemput sang profesor di Bandara. Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju ke tempat pengambilan koper. Ketika berjalan keluar, Harry seling menghilang. Banyak hal yang dilakukannya. Ia membantu seorang wanita tua yang kopernya jatuh, Kemudian mengangkat seorang anak kecil agar dapat melihat pemandangan. Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukan arah yang benar. Setiap kali melakukan hal itu semua, ia kembali ke sisi profesor dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.

Dari mana anda belajar melakukan hal seperti itu ? tanya sang profesor.
“Oh”, kata Harry, “selama perang saya kira.” Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya ketika perang. Juga tentang tugasnya saat membersihkan ladang ranjau, dan bagaimana ia harus menyaksikan satu persatu temannya tewas karena ledakan rajau di depan matanya.

Saya belajar untuk hidup diantara pijakan setiap langkah, katanya. Saya tak pernah tau apakah langkah berikutnya merupakan pijakan yang terakhir,
sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakan kaki.

Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru, dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini.

Kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang berkualitas,”.

Sebuah motivasi dari majalah IT Rulli

Mar 12

Oleh : midha farhat zahrani

Rabb…bersamaMu ada kasih
Meski hidup kadang perih
Rabb bersamaMu ada cinta
Meski jiwa terasa hampa
Rabb dalam detikMu ada bahagia
Meski tawa malu tergelak manja
Rabb dalam udaraMu ada sayang
Meski paru sombong menarik kencang

Dalam hasratku, kurindu sebuah angan
Bersamanya terisikan cinta dan sayang
Dalam nafasku, kuhirup udara kebahagiaan
Bersamanya tersimpan harapan
Dalam langkah terlontar kuat keikhlasan
Bersamanya kuhempas batu cadas penghambat jalan
Dalam netraku terpancar terang keyakinan
Bahwa aku mampu berjalan ditengah badai kehidupan

Karena Kau selalu ada dalam tiap bagian cercah episodeku….
Rabb bersamaMu kan ku akhiri semua
Dengan senyumMu yang penuh keredhaan…

Mar 12

Oleh : midha farhat zahrani

Apakah hidup itu..?
Sebuah rangkaian detik berisikan cerita sedih, kekecewaan dan airmata

Sudut sebelah barat bersemedi tegak
Sang congkak egois yang tak mau dikalahkan
Terlihat disebelah timur, darah dan airmata
Bersahutan tanpa harapan
Sedang utara dan selatan membeku
Laksana es abadi tanpa kasih

Dan aku…
Dimanakah aku ini..?
Terdiam…, sesekali melangkah menanam harap
Akan datangnya kasih dan cinta yang membawa senyum bahagia
Harapan yang tertuai sedikit demi sedikit

Yah.. aku berada di belahan timur…
Karenanya akan kuubah air mata menjadi canda ceria
Lautan darah jadi hujan kasih..

Tapi apakah detik waktu mau membantuku…?

Feb 14

Oleh : milis tetangga…

Tanpa disadari terkadang sikap apatis menyertai saat langkah kaki
mengarungi
tuk coba taklukkan ibukota negri ini. Semoga kita selalu diingatkan.

Sekedar berbagi cerita di forum orang orang super dalam keindahan hari
ini :

Siang ini February 6, 2008 , tanpa sengaja ,saya bertemu dua manusia
super.
Mereka mahluk mahluk kecil , kurus ,kumal berbasuh keringat. Tepatnya
diatas
jembatan penyeberangan setia budi , dua sosok kecil berumur kira kira
delapan  tahun  menjajakan  tissue dengan wadah kantong plastik hitam.
Saat
menyeberang untuk makan siang  mereka menawari saya  tissue diujung
jembatan
, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan
lebar
lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan
ucapan
“Terima kasih Oom !”.  Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan
Cuma
mulai membuka  sedikit senyum seraya  mengangguk kearah mereka.

Kaki - kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan , menyapa
seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang
penuh
keceriaan, laki laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya,
lagi
lagi sayup sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil
mereka
. Kantong hitam tampat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok
disudut
jembatan  tertabrak derai angin Jakarta . Saya melewatinya dengan
lirikan
kearah dalam  kantong itu , duapertiga  terisi  tissue putih berbalut
plastik transparan .

Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama  dan mendapati
mereka
tengah mendapatkan pembeli seorang wanita , senyum diwajah mereka
terlihat
berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta .

” Terima kasih ya mbak .semuanya dua ribu lima ratus rupiah!”  tukas
mereka
, tak lama siwanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah
sepuluh
ribu rupiah .

” Maaf , nggak ada kembaliannya ..ada uang pas nggak mbak ? ” mereka
menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng,  lalu dengan
sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah
mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.

” Oom boleh tukar uang nggak , receh sepuluh ribuan ?” suaranya
mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka . sedikit
terhenyak
saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian  food
court
sebesar empat ribu rupiah .

” Nggak punya , tukas saya !” lalu tak lama siwanita berkata ” ambil
saja
kembaliannya , dik !” sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya
kearah
ujung sebelah timur.

Anak ini terkesiap , ia  menyambar uang empat ribuan saya dan
menukarnya
dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya
yang
masih tetap berhenti ,  lalu ia  mengejar wanita tersebut untuk
memberikan
uang empat ribu rupiah tadi. Siwanita kaget , setengah berteriak ia
bilang ”
sudah buat kamu saja , nggak apa..apa ambil saja !”, namun mereka
berkeras
mengembalikan uang tersebut. ” maaf mbak , Cuma ada empat ribu  , nanti
kalau lewat sini lagi saya kembalikan !” Akhirnya uang itu diterima
siwanita
karena sikecil pergi meninggalkannya.

Tinggallah episode saya dan mereka , uang sepuluh ribu digenggaman saya
tentu bukan sepenuhnya milik saya . mereka menghampiri saya dan berujar
” Om
, bisa tunggu ya , saya kebawah dulu untuk tukar uang ketukang ojek !”.

” eeh .nggak usah ..nggak usah ..biar aja ..nih !” saya kasih uang itu
ke
sikecil, ia menerimanya tapi terus berlari kebawah jembatan menuruni
tangga
yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.

Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya ,

Nanti dulu Om , biar ditukar dulu ..sebentar ”

” Nggak apa apa , itu buat kalian ” Lanjut saya

” jangan ..jangan Om , itu uang om sama mbak yang tadi juga ” anak itu
bersikeras

” Sudah ..saya Ikhlas , mbak tadi juga pasti ikhlas ! saya berusaha
membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari keujung
jembatan
berteriak memanggil temannya untuk segera cepat , secepat kilat juga ia
meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearah saya.

” Ini deh om , kalau kelamaan , maaf ..” ia memberi saya delapan  pack
tissue

” Buat apa ?” saya terbengong

” Habis teman saya lama sih Om , maaf , tukar pakai tissue aja dulu ”
walau
dikembalikan ia tetap menolak .

Saya tatap wajahnya , perasaan bersalah muncul pada rona mukanya . Saya
kalah set , ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam tissuenya .
Beberapa saat saya mematung di sana , sampai sikecil telah kembali
dengan
genggaman uang receh sepuluh ribu , dan mengambil tissue dari tangan
saya
serta memberikan uang empat  ribu rupiah.

“Terima kasih Om , !”..mereka kembali keujung jembatan sambil sayup
sayup
terdengar percakapan ” Duit mbak tadi gimana ..? ” suara kecil yang lain
menyahut ” lu hafal kan orangnya , kali aja ketemu lagi ntar kita
kasihin
…” percakapan itu sayup sayup menghilang  , saya terhenyak dan kembali
kekantor dengan seribu perasaan.

Tuhan ..Hari ini saya belajar dari dua manusia super , kekuatan
kepribadian
mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh , mereka berbalut baju
lusuh
tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra , mereka tahu hak mereka dan
hak
orang lain , mereka berusaha tak meminta minta  dengan berdagang Tissue
.
Dua anak kecil yang bahkan belum baligh , memiliki kemuliaan diumur
mereka
yang begitu belia.

YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO

Engkau hanya semulia yang kau kerjakan.

MT

Saya membandingkan  keserakahan kita , yang tak pernah ingin sedikitpun
berkurang rizki kita meski dalam rizki itu sebetulnya ada milik orang
lain .

“Usia memang tidak menjamin kita menjadi Bijaksana , kitalah
yang
memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak”

Semoga pengalaman nyata ini mampu menggugah saya dan  teman lainnya
untuk
lebih SUPER.

Jan 28

Oleh : Koh Young Hun

Tiga puluh tahun yang lalu, saya mendengar dari profesor saya di ruang kelas bahwa Indonesia merupakan negara yang berpotensi tinggi, karena sumber daya alam dan manusianya begitu kaya. Tiga puluh tahun sudah lewat, dan saya sudah menjadi profesor. Saya masih juga mengatakan kepada murid-murid saya bahwa Indonesia negara besar dan berpotensi tinggi dengan alasan yang sama.

Tanggal 19 Desember 2007, rakyat Korea (Korsel) memilih presiden baru, yaitu Lee Myung-bak (biasa disebut MB) yang akan memulai lima tahun masa jabatannya pada 25 Februari mendatang. MB berjanji bahwa dalam masa jabatannya Korea akan lebih maju dengan wawasan 7-4-7, yang berisikan bahwa 7 persen pertumbuhan ekonomi per tahun, 40.000 dollar AS pendapatan per kapita, dan negara ke-7 terbesar dari segi ekonominya (sekarang ke-11 terbesar). Pada hemat saya, Indonesia juga bisa, karena negara ini punya kemampuan.

Ciri utama yang mewarnai negara berkembang, dan merupakan musuh utama yang harus kita kalahkan, ialah kebodohan dan kemalasan yang keduanya adalah cikal bakal yang melahirkan kemiskinan. Karena itu, siapa yang lebih dahulu mampu menghilangkan dua sifat buruk itu, maka dialah yang akan dengan cepat dapat meraih kemajuan dan kemakmuran bangsanya.

Dalam teori pembangunan, sebagaimana ditulis Steven J Rosen dalam bukunya, The Logic of International Relation, dikenal dua aliran pendapat tentang sebab-sebab keterbelakangan negara-negara berkembang, di mana kedua aliran pendapat itu secara prinsip sangat berbeda satu dengan yang lain. Dalam hal ini, Indonesia dan Korea memiliki pandangan yang sama, yakni menganut paham tradisional; menganggap bahwa proses pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di sebagian besar negara terhambat akibat rendahnya tingkat produktivitas yang berhubungan erat dengan tingginya kemubaziran dan ketidakefisiensian sosial. Aliran ini berpendapat bahwa keterbelakangan dan kemiskinan mutlak disebabkan faktor-faktor internal. Istilah Jawa-nya karena salahe dewe.

Adapun aliran yang lain, ialah aliran radikal, memandang kemiskinan dan keterbelakangan suatu negara (terutama negara ketiga) disebabkan oleh kondisi internasional, yakni adanya eksploitasi negara-negara maju terhadap negara-negara berkembang. Namun, dalam hal ini saya beranggapan bahwa teori ini cenderung selalu mencari kambing hitam. Pepatah Melayu-nya, karena awak tak bisa menari, lantai pula yang disalahkan.

Etos Korea

Kita semua tahu bahwa Korea dalam kurun waktu relatif singkat telah menjelma menjadi masyarakat modern, yaitu masyarakat yang telah mampu melepaskan diri dari ketergantungan pada kehidupan agraris.

Kemajuan Korea ini telah membuat banyak orang berdecak, terpukau seperti melihat keajaiban sebuah mukjizat. Para pakar bertanya-tanya, resep apa gerangan yang telah membuat bangsa yang terubah menjadi negara dan bangsa yang makmur? Sejak awal tahun 1970-an pihak Pemerintah Korea dalam rangka semangat pembangunan nasional telah berusaha membentuk tipe manusia Korea yang memiliki empat kualitas. Pertama, ”sikap rajin bekerja”. Lebih menghargai bekerja secara tuntas betapa pun kecilnya pekerjaan itu, tinimbang pidato yang muluk-muluk tetapi tiada pelaksanaannya.

Kedua, ”sikap hemat”, yang tumbuh sebagai buah dari sikap rajin bekerja tadi. Ketiga, ”sikap self-help”, yang didefinisikan sebagai berusaha mengenali diri sendiri dengan perspektif yang lebih baik, lebih jujur, dan lebih tepat; berusaha mengembangkan sifat mandiri dan rasa percaya diri. Keempat, kooperasi atau kerja sama, cara untuk mencapai tujuan secara efektif dan rasional, dan mempersatukan individu serta masyarakatnya.

Inilah picu laras yang memacu jiwa kerja bangsa Korea. Bila kita perhatikan, keempat butir nilai itu sesungguhnya adalah nilai luhur bangsa Indonesia. ”Rajin pangkal pandai…” dan ”sedikit bicara banyak kerja” adalah pepatah yang telah mengakar dalam budaya Indonesia.

Adapun nilai self-help, mandiri, sudah lama melekat dalam nilai religi sebagian besar masyarakat Indonesia, karena Tuhan Yang Maha Esa dalam Al Quran menyebutkan bahwa sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu bangsa, kecuali bangsa itu mengubah nasibnya sendiri. Sedangkan setiap usaha mengubah nasib, baik itu membuahkan hasil ataupun tidak, Islam telah memberinya nilai tambah; digolongkan pada perbuatan ibadah. Sementara sifat yang terakhir, kooperasi, adalah sendi-sendi budaya Indonesia yang amat menonjol. Kooperasi atau gotong royong tetap dipelihara dan dilestarikan.

Burung garuda

Sebagai penutup, saya ingin sedikit mendongeng tentang seekor anak burung garuda yang tertangkap dan dipelihara oleh seorang pemburu. Dari hari ke hari dia hanya bermain di halaman rumah; bersama-sama ayam kampung. Lalu pada suatu hari lewatlah seorang ahli unggas. Sang zoologist itu terkejut.

”Ah!” pikir sang ahli unggas itu terheran-heran. ”Sungguh mengherankan burung garuda itu!” ujarnya kepada pemburu.

”Dia bukan burung garuda lagi. Nenek moyangnya mungkin garuda, tetapi dia kini tidak lebih dari ayam-ayam sayur!” balas sang pemburu mantap.

”Tidak! Menurutku dia burung garuda, dan memang burung garuda!” bantah si ahli unggas itu.

Burung garuda ditangkap, lalu diapungkan ke atas udara. Garuda mengepak, lalu terjatuh.

”Betul, kan?” ujar si pemburu. ”Dia bukan garuda lagi!”

Kembali si ahli unggas itu menangkap garuda, dan mengapungkannya lagi. Kembali garuda mengepak, lalu turun kembali. Si pemburu kembali mencemooh dan semakin yakin garuda telah berubah menjadi ayam.

Dengan penuh penasaran si ahli unggas memegang burung itu, lalu dengan lembut membelai punggungnya, seraya dengan tegas membisikkan: ”Garuda, dalam tubuhmu mengalir darah garuda yang perkasa. Kepakkanlah sayapmu, terbanglah membubung tinggi, lihatlah alam raya yang luas yang amat indah. Terbanglah! Membubunglah!” Burung dilepas, dia mengepak. Semula tampak kaku, kemudian tambah mantap, akhirnya garuda melesat membubung tinggi, karena dia memang garuda.

Nah, barangkali cerita ini ada persamaannya dengan bangsa Indonesia. Bukti kejayaan masa lampau telah membuat mata dunia takjub. Borobudur satu bukti karya perkasa. Kini camkanlah bahwa Anda sekalian mampu, Anda punya kemampuan. Korea saja bisa, apalagi Indonesia.

Koh Young Hun Profesor di Program Studi Melayu-Indonesia, Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea